Labels

Friday, December 14, 2012

DUMILAH: Suara Penyandang HIV/AIDS

www.odhaberhaksehat.org


Belulang serasa kian menipisi hidup yang akut.
Pembaringan yang layu menyapa-nyapa menandakan ajal.
Sebelum Aku bertindak lebih maju, cemooh kian semburat di sekelilingku.
Entah Aku yang tidak waras atau mereka yang tak tahu batas.
Sebelum Aku berusaha lebih keras, hina-dina menyapa lebih bebas.
Entah Aku yang tidak waras atau mereka yang tak tahu batas.
Putus asakah Aku ini?
Mengapa iblis masih bisa optimis menjatuhkan semangatku?
Tak adil-kah Tuhan Yang Mahabesar itu?
***
Sementara pandan yang mewangi dan gingsul padi yang menyembuli pagi hari.
Aku masih disini.
Masih dibisiki suara mati.
***
 Hingga suatu hari Aku ditemui Izrail di lesu-mendesuku.
"Dumilah, Aku senang sekali mencabut nyawa orang yang berputusharapan, hahaha. Sementara manusia yang berbesar hati menerima hidupnya, kusuruh dia tersenyum dulu pada dunia, sebelum Aku mencabut ajalnya dengan berberat hati"
***
Disinilah kini matahari menyahabati.
Hangat senyumku kuumbar seduniawi.
Biar besok atau lusa mati menghampiri,
Aku akan bilang begini:
"Izrail temanku, hari-hari terakhir ini cuaca panas sekali, ya? Tapi hatiku sejuk karena cinta-Nya. Hidupku pun sebegitu berartinya. Sekarang Kau akan menyuruhku tersenyum, bukan?

     Sepenggal puisi yang Saya buat, kiranya bisa menggambarkan perjuangan seorang pengidap HIV/AIDS. Sekilas, puisi tersebut menitik beratkan pada kematian si ODHA yang berjarak tak lama. Namun, mari Saya jelaskan.
     Sebenarnya Saya tidak tahu pasti beda antara HIV dan ataupun AIDS. Bagi Saya, keduanya sama. Sama-sama penyakit, dan pengidapnya sama-sama berhak untuk hidup. Hidup yang juga sama dengan yang lain. Hidup yang sama berartinya dengan Saya yang kini sedang menderita influenza. Sama bukan?
     Titik berat puisi Saya, justeru mengarah pada hidup dan kehidupan yang seyogyanya dijalani para ODHA dengan seberarti mungkin. Sebermakna mungkin. Pantaskah ODHA berkecil hati atas cemoohan sesama makhluk lain sementara Tuhan sendiri berbelas kasih masih memberi kehidupan?

     Ada kesempatan. Pasti adapula jalan.

     Bagi Saya, yang tidak pernah bertemu dengan satupun ODHA atau mungkin pernah namun Saya tidak menyadarinya, HIV/AIDS yang katanya pembunuh nomor satu manusia itu, jelas masih kurang waras kalau disebut penyakit (maaf) hina.
     Karena kamu tidak akan tahu darah teman kamu yang mana yang didalamnya ada virus HIV/AIDS-nya kalau kamu (bahkan untuk tidak sengaja) menyentuh darah itu. Karena kamu tidak akan tahu ludah orang asing yang mana didalamnya ada virus HIV/AIDS-nya kalau (bahkan untuk tidak sengaja) kaki kamu yang hanya memakai sendal jepit, tak sengaja terludahi orang asing yang berjalan di depan kamu.
  
     Ini tentang takdir dan anugerah.
     Ini tentang Tuhan yang menakdirkan, dan tentang yang diberi sakit menikmatinya sebagai anugerah agar terus diberikan kesempatan memaknai hidup lebih berarti dibanding yang lain. Agar mengerti tentang perjuangan keras sebagai garisan yang dianugerahkan.

Untuk Dumilah_____________,