Labels

Tuesday, November 5, 2013

Tentang Jejak

     Tentang jejak. Tentang “Atsar”. Tentang bagaimana manusia mematrikan dirinya di bumi milik Tuhan. Sudah saya bilang, “raga” itu dari Tuhan. Sementara “diri”, manusia yang menghidupkan. Ada banyak perihal cara manusia menghidupkan dirinya. Dengan ru’yah. Dengan pandangannya. Dengan pengaruh. Dengan wibawa. Dengan segala teori soal asal muasal Tuhan dan kehidupan, hingga teori tentang kuman. Kali ini tentang bagaimana manusia, yang diberi raga dan dianugerahi sebuah diri, menentukan pilihan dalam kehidupan. Sebelum semua dikebumikan.
     Ada semacam aliran dan pola pikiran, yang manusia bisa hinggapi sebagaimana alurnya menghendaki. Tapi kemudian, ketika zaman bergantian dan musim berpapasan, entah sufi dan pemikir rusak yang mana yang mengubah mufakat tersebut. Katanya, jadilah orang yang baru. Jadilah manusia yang berdikari tidak ikut kesana kemari. Katanya, buatlah sekenario sendiri. Ketika banyak orang mendayungkan rakitnya ke satu hilir yang sama, kelokanlah laju rakit yang kita tumpangi ke sebuah hilir baru meski keberadaannya pun belum tentu kita ketahui. Barangkali kitalah manusia pertama yang menyinggahi. Itulah beda invention dan discovery.
     Manusia memperindah raganya. Sesekali lupa menghias dirinya. Menghias isi kepalanya. Membuka mata hatinya. Lupa pula menginjakan kaki ke pelbagai ranah yang menyelenggrakan sekolah kehidupan. Ternyata tidak sesekali. Manusia lupa banyak-banyak. Suatu hari manusia dipinta lagi raganya oleh Tuhan, manusia pasti akan sesali segalanya. Segala yang tidak sempat diraihnya, dikerjakannya, dirasainya, dicicipinya, dinikmatinya, disentuhnya, dijamahnya, dihelanya, diseriusinya, bahkan atas apa yang belum dikentutinya.
     Lebih jauh lagi, setelah masa pengkebumian, setelah tersemat namanya sebagai alumni sekolah kehidupan, manusia lupa membuat jejak. Manusia lupa bertapak! Manusia membawa raganya beserta dirinya keluar dari bumi Tuhan. Padahal, sudah dibilang bahwa “diri” itu tentang kehidupan dan “raga” itu soal bernafas dari hidung, makan dari mulut, dan buang kotoran saja. Manusia lupa mematrikan eksistensinya di bumi Tuhan. Manusia lupa membuat ajaran. Lupa meneruskan perjuangan lewat teman sekawan, teman satu kuliahan, atau teman sepermainan. Lupa memberi kontribusi dan menginspirasi. Ketika manusia diperdengarkan sebuah ucapan; “Bahkan bayi yang meninggal satu detik setelah kelahirannya saja, pasti punya misi kenapa dia diciptakan oleh Tuhannya dan dikirim ke alam dunia”, bisa jadi manusia akan sedikit tenang. Manusia akan berfikir bahwa setidaknya, ketika ia lupa meninggalkan jejaknya di dunia, mungkin ada satu misi yang ia tinggalkan di atas tanah sana. Mungkin. Wong bayi yang langsung meninggal saja diamanahi misi ke dunia tho?
     Tapi manusia yang begitu, manusia yang tidak meninggalkan jejak seperti itu, manusia yang lupa memberi dunia setidaknya satu kontribusi saja namun percaya dirinya telah menanggalkan satu misi yang Tuhan amanahi, bodohlah ia jika tetap tidak mengetahui misi apa yang sebetulnya telah ia sampaikan pada penduduk bumi. Manusia yang lain akan menertawai. Tentu saja. Karena misi yang ditinggalkan oleh manusia macam begitu, adalah menyampaikan sebuah cerita tentang seorang manusia bodoh yang lupa membagi sisi kebergunaannya sebagai manusia, kepada sesamanya.

 

Japan, November 5th 2013
09:55 - 10:50 PM

*oke, kali ini tulisanku agak non-sense. Bisa jadi summary obrolan bareng Wulan Andriany Putry, Sefrizal Arga Chandra Nugroho, Reyhantyo Eko Nugroho, dan guest star malam ini: Samuel Pattinasarane. Sekarang tulisan gue ada alineanya, Sam~
**langsung nulis ketika kalian semua pulang. Tenaaaang…. Essay workshopnya besok pasti beres deh (y)
***lagi-lagi ditemenin Unbeatable Network. Thanks Aga!
****pas tadi Kak Ully kesini, sebetulnya aku lagi ngetik tulisan ini. Bukan ngetik essay workshop hehehe.

Saturday, June 8, 2013

FORANZA SILLNOVA DESCRIPTION



            Sebagaimana Insan Cendekia dibangun oleh Bacharudin Jusuf Habibie untuk mewadahi mimpi anak muslim seluruh negeri, seratus duapuluh manusia terpilih menjejakkan kaki di kampus berprestasi tanggal 10 Juli 2010. Berasal dari Batam, Lampung, Bangka Belitung, Pontianak, Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Ciamis, Majalengka, Garut, Cirebon, Semarang, Demak, Wonosobo, Temanggung, Solo, Yogyakarta, Batang, Kebumen, Lamongan, Malang, Tulungagung, Gresik, Banyuwangi, Bali, dan ranah lain di penghujung negeri. Berlatar belakang banyak suku dan lini ekonomi. Menyisihkan ribuan orang yang menyaingi. Atas nama hijrah, mereka berpindah dan kemudian mempersatukan diri. Berkesempatan merasai beasiswa penuh untuk tiga tahun masa pendidikan yang akan dijalani.
            Mereka membangun mimpi. Menyemai semangat yang Insan Cendekia doktrinasi, kemudian mengikat diri dalam nama “Foranza Sillnova” agar mimpi yang tadinya milik sendiri-sendiri, bisa diwujudkan serayaan duniawi. Hari itu, adalah 10 Oktober 2010 yang bersejarah. Ada pertalian ukhuwah. Ada semacam karunia Ilah. “Forza Esperanza Solidarity Will Not Ever Vanish” mulai memasang arah. “Forza” berarti Generasi dan “Esperanza” berarti Mimpi. Generasi Impian dengan solidaritas hakiki.
            Seminggu masa orientasi dilewati di Pekan Ta’aruf Siswa (PTS) An-Nahl. Nama yang dinukil dari surat ke-16 Al-Qur’an Suci, karena Foranza Sillnova merupakan angkatan ke-16 MAN Insan Cendekia Serpong. Memasuki tahun pertama, sebagian mereka cepat berhasil beradaptasi, kebanyakannya tertatih-tatih dahulu diiringi dukungan sana-sini untuk selalu bangkit berdiri. Lepas dari pegangan orang tua dan famili di kampung halaman, kiranya ucapan terimakasih patut dihantarkan untuk wali asrama yang sedia setia menemani. Remedial bisa jadi makanan sehari-hari. Belajar dan beribadah; rutinitas tiada henti.
            Sementara, benarlah kata Soe Hok Gie. Pemuda-pemudi berada dalam tiga deskripsi: Buku, Pesta, dan Cinta. Berlelahan dalam penyesuaian belajar di tahun pertama, ada “pesta” yang menyambut di tahun kedua. Dengan acara Sonic Linguistic 2012 sebagai pencapaian terbesarnya, OSIS 2011/2012 berhasil menjadi salah satu masa jihad OSIS terbaik MAN Insan Cendekia Serpong. Sonic Linguistic 2012 yang sukses besar, memberikan kesan mendalam bagi seluruh siswa-siswi Insan Cendekia pada waktu itu. Terlebih, bagi Foranza Sillnova dan Bapak Drs. Ahmad Hidayatulloh, M. Pd., yang kala itu menjabat sebagai Kepala Madrasah. Dalam wadah oraganisasi seperti OSIS inilah, para penumpang di “bahtera” Foranza Sillnova belajar tentang kepemimpinan, kerjasama, kepiawaian sosial, dan banyak lagi ilmu kehidupan lain. Tak lupa, pun demikian dalam wadah organisasi Majelis Permusyawaratan Siswa (MPS) yang menjadi pengawas jalannya seluruh kegiatan OSIS dalam mencapai visi dan misinya.
            Kemudian, adalah Cinta. Alasan mengapa lebih dari seratus anak Foranza Sillnova memilih bertahan dan berupaya meneruskan perjuangan di tahun ketiga. Ada cinta yang memotori semangat memberikan yang terbaik. Bagi guru, bagi orang tua, bagi angkatan, juga bagi diri sendiri. Ada cinta yang terlanjur tumbuh dan berkembang di antara sejawat-sejawati. Saling mengingatkan, saling menyemangati, saling berbagi, dan saling nasehat-menasehati, adalah kiat yang mengantarkan mereka terus berprestasi.
            Hal itu pulalah yang mungkin menjadi salah satu digdaya seorang di antaranya, M. Aji Muharrom, berhasil menyabet medali Perunggu dalam ajang bergengsi dunia, “International Olympiad of Informatics" di akhir tahun 2012. Dan padatnya jadwal ujian, bukan lagi rintangan yang menyusahkan. Justeru, masa akhir yang dilakoni dalam nadir perjuangan ini, adalah momentum pembuktian bagaimana Foranza Sillnova mengarungi bombardir ujian studi dan ujian mental diri. Terbukti, seratus enambelas ijazah berhasil didapatkan saat wisuda nanti. Foranza Sillnova adalah angkatan MAN Insan Cendekia Serpong dengan peraih ijazah terbanyak.
            Foranza Sillnova; angkatan yang penuh potensi, banyak hobi. Dari mulai piawai berseni, bersastra-berpuisi, berkritis-berorasi, berdakwah-berqira’ah, dan masih banyak lagi. Hobi pelesir kesana kemari dari mulai gunung tertinggi di Jawa, hingga pantai memukau Indonesia. Hobi berkarya; dalam bingkai, dalam benang, dalam syair, dalam lagu, dalam tulisan, dalam gerakan, dan berbagai karya ciptaan.
            Tiga tahun terlewati dengan berbagai macam rasa, berbagai macam karunia. Sudah saatnya mereka meneruskan perjuangan. Ada penguraian yang tak lantas menjadi perceraian tali persaudaraan. Lebih dari sekedar selembar kertas bertuliskan “Lulus”, mereka akan segera diembani amanat yang tak kalah besar dan hebat. Menyambut Indonesia ke-100 tahun di tahun 2045 kelak, diharapkan di barisan depanlah mereka berada nanti. Menjadi panji kejayaan Indonesia yang Islami. Membangun Indonesia dengan perannya sendiri-sendiri seperti yang pertama kali mereka impikan di MAN Insan Cendekia Serpong. Menelurkan semangat perjuangan The Founding Father, B.J. Habibie.
            Tanggal 29 Mei 2013, adalah hari dijadwalkannya Foranza Sillnova dilepas. Angkatan yang penuh potensi. Tak lain, didapat dari banyak ajaran, bimbingan, binaan, dan asahan seluruh guru dan civitas MAN Insan Cendekia Serpong. Juga, dukungan dan doa orang tua dan sanak saudara di handai taulan. Tak dilupakan, atas kesemua fasilitas memadai yang memperlancar segala proses pengembangan dan aktualisasi diri. Kementrian Agama yang sedia mengucurkan pundi untuk tiga tahun beasiswa yang dinikmati, dan tentu dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Tiada kata yang lebih pantas menyamai syukur dan terimakasih ini, dan tiada kata yang lebih munajat dibanding “Alhamdulillaah”. Selawasnya waktu yang telah berjalan dalam kurun tiga tahun, maaf dan sesal atas salah dan khilaf yang menghiasi semogalah diridhai Allah sebagai taubat.

“Insan Cendekia, Foranza Sillnova mohon undur diri...”

Tangerang Selatan, 23 Mei 2013 | 11.49 am
NIDA KHANSA NAZIHAH :-*

Friday, May 24, 2013

PERSEMBAHAN FORANZA SILLNOVA UNTUK INSAN CENDEKIA

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas bakal diumumkan Jumat, 24 Mei 2013. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mekanisme pengumuman akan diserahkan ke masing-masing sekolah. Namun, kata Nuh, peraih nilai ujian tertinggi sudah bisa diumumkan hari ini.

"Tertinggi Ni Kadek Vani Apriyanti dari SMA Negeri 4 Denpasar," ucap Nuh ketika ditemui di kantornya, Kamis, 23 Mei 2013. Menurut Nuh, Vani mendapatkan nilai tertinggi yakni 9,87. SMA Negeri 4 Denpasar sendiri berhasil menempatkan lima siswanya di 12 peringkat teratas.

Berikut nama 12 siswa peraih nilai Ujian Nasional Murni SMA tertinggi:
1. Ni Kadek Vani Aapriyanti, SMA Negeri 4 Denpasar Bali, 9,87
2. Aditya Agam Nugraha, SMA Negeri 1 Surakarta, Jateng, 9,78
    Helena Marthafriska Saragi Napitu, SMA Swasta Methodist 2, Medan, Sumatera Utara, 9,78
3. Made Hyang Wikananda, SMA Negeri 4 Denpasar Bali, 9,76
    Luh Putu Lindayani, SMA Negeri 4 Denpasar Bali, 9,76
4. Elva Vidya, SMA Kristen 5 BPK Penabur, DKI Jakarta, 9,75
    Gracia Isaura Raulina, SMA Negeri 8, DKI Jakarta, 9,75
    Putu Siska Apriliyani, SMA Negeri 4 Denpasar Bali, 9,75
    Nadia Anindita Vandari, MA Negeri Insan Cendekia, Ciater, Serpong, Banten, 9,75
5. Sarah Alya Firnadya, SMA Negeri 8, DKI Jakarta, 9,73
    Zulva Facharina, SMA Negeri 10 Samarinda, Kalimantan Timur, 9,73
    Putu Indri Widiani, SMA Negeri 4 Denpasar Bali, 9,73

Sedangkan 10 sekolah dengan rata-rata nilai Ujian Nasional tertinggi, sebagai berikut:
1. SMA Negeri 4 Denpasar, 296 Siswa, 100 persen lulus, nilai 9,17
2. MA Negeri Insan Cendikia, Ciater, Serpong, 116 siswa, 100 persen lulus, 8,93
3.SMA Kristen 1 BPK Penabur Jakarta, 295 siswa,100 persen lulus, 8,88
4. SMA Santa Ursula, 205 siswa, 100 persen lulus, 8,87
5. SMA Negeri 1 Denpasar, 512 siswa, 100 persen lulus,8,81
6. SMA Negeri 3 Lamongan, 230 siswa, 100 persen lulus, 8,81
7. SMA Negeri 1 Babat Lamongan, 300 siswa, 100 persen lulus, 8,81
8. SMA Negeri 10 Fajar Harapan Banda Aceh, 75 siswa, 100 persen lulus, 8,79
9. SMA Negeri 1 Kembangbahu Lamongan, 124 siswa, 100 persen lulus, 8,78
10. SMA Negeri 8 Jakarta, 417 siswa, 100 persen lulus, 8,74.

Sunday, March 3, 2013

Foranza Sillnova Dieng Trip


Sikunir Dieng Plateau
December 25th, 2012

Menara Mangkunegaran


Keraton Solo Mangkunegaran
December 26th, 2012

Menunggu Halal Pelaminan


Vredeburg - Yogyakarta
December 31th, 2012

Menjelang Pagi


Sikunir Dieng Plateau
December 25th, 2012

Lembayung Solo


Alun-alun Kidul Solo
December 26th, 2012

Kubah Ujung Gang


Pangandaran Beach
August 20th, 2012

Gunung Sindoro


Sikunir Dieng Plateau
December 25th, 2012

Bukit Bintang



Bukit Bintang - Yogyakarta
December 30th, 2012

Bank Indonesia

afternoon

night
Malioboro Street - Yogyakarta
December 27th, 2012

Bukit Berkabut



Sikunir Dieng Plateau - Wonosobo
December 25th, 2012

Angin Krakal


Pantai Krakal  - Gunung Kidul
December 30th, 2012

Friday, February 22, 2013

Amora Megalova


Malam yang mungkin terlalu sibuk di tempat orang. Mungkin, masih ada sekeluarga yang menunggu midnight sale di mal sambil makan malam di restoran ramen terkenal. Biasanya sekeluarga ini punya mata sipit-sipit. Biasanya sekeluarga ini ditemani bibi pembantu berseragam biru. Mungkin, masih ada sekelompok muda tanggung di jalanan, di jembatan, di tempat hiburan. Biasanya kelompokan ini punya komposisi pasang-pasangan. Biasanya kelompokan ini bawa motor per setiap pasangan. Kadang-kadang, ada beberapa yang tak malu bergandengan, berpelukan, bercumbuan. Dan mungkin, masih ada kuli panggulan untuk keping-keping baja seberat ratusan hewan. Biasanya pak kuli ini punya isteri di rumah kelaparan. Biasanya pak kuli ini punya anak yang ketiduran gara-gara kecapaian menangis minta dibelikan mainan.
Malam yang tidak terlalu sibuk di tempat kami. Bergemerlapan cahaya lampu kota Tangerang Selatan, tak sempat terbidik oleh mata kami yang  bertempat di pelosok jauh Serpong. Pun dengan rupa-rupa polah yang tadi tersebut diawal. Cahaya malam disini, mengandalkan lampu-lampu neon yang dipasang di tiap gedung-gedung asrama dan gedung-gedung  fasilitas lain. Sementara untuk penerangan sekitaran kampus yang sudah sepi, membumbung  lampu  tinggi dan sebaran lampu asma’ul husna dengan nyala tak seberapa.
Malam yang tidak sibuk bagiku di gedung asarama putri khusus kelas duabelas  ini. Tidak ada tugas untuk jadwal besok. Dan syukur saja, ulangan harian pun sama nihilnya. Bercakaplah Aku dengan bala remaja putri dari satu kelas yang sama denganku. Mereka, seperti biasa, bicara soal apa, siapa, dan topik yang menjadikannya bahan cerita. Mereka, seperti biasa, bicara soal urusan yang sebenarnya bukan mereka yang punya. Mereka, seperti biasa, bicara soal yang itu-itu saja. Mereka, berbicara tentang: Cinta.
Bermacam tuturan semakin banjir saja dengan timpalan-timpalan tanggapan atau rekaman yang dilihatnya waktu lampau dan mungkin siang tadi di sekolahan. Cerita si Boy yang  tertangkap tengah bercengkerama dengan Mannequin, anak kelas satu yang cantiknya tidak ada yang tidak tahu. Cerita si Kribo yang katanya semakin mesra dengan mantan rekan satu divisi OSIS sewaktu masih menjabat organisasi. Cerita si Jegrak yang katanya sudah jadian dari lama dengan gitaris perempuan dari satu band yang sama dengannya. Dan tentang cerita mereka sendiri dengan pangerannya yang satu angkatan, angkatan atas yang sudah mengalumni, dan bahkan adik kelas dibawah kami.
Rata-rata, semua berawal dari kekaguman yang menumpuk, menggunung, dan menggelembung tiada terkungkung. Dari situlah apa yang mereka sebut ‘Cinta’, serasa kian memenuhi, menyesaki, dan mengangan-angani tiap-tiap derap hari. Klise memang. Tapi beberapa contoh lain, menunjukkan adanya alasan tentang cinta dan mencintai yang tak seragam. Menunjukkan adanya alasan tentang cinta dan mencintai yang bukan berawal dari kekaguman dan penyukaan.
Contohnya kisah si Kribo dan si Manis yang berperawakan mungil, pendek, dan berkulit putih. Roman-romannya, awal kedekatan mereka berasal dari pertengkaran yang terjadi antara keduanya. Dari situlah komunikasi yang tidak baik hingga menjadi baik pun terjalin. Dan, resmi menjadi suka sama suka. Terdengar picisan sekali bagiku. Tapi jelas terjadi di sekitarku. Jelas menambahi arsip cerita-ceritaku dan teman yang lain.
Ada lagi satu pasang muda-mudi angkatan kami yang kisahnya sangat sayang dilewatkan. Dari mulai tentang  awal kedekatannya, status yang sebenarnya terjadi, orang ketiga yang menghiasi, berapa lama hubungannya terjalin, siapa duluan yang mengakui perasaan yang waktu itu tengah menggelayuti, hingga soal motif salah satunya memacari pujaan hati. Kabar beredar, suka, adalah alasan mereka saling sama mencintai di tiga bulan pertama kisahnya dimulai. Dan salah menilai di awal, adalah alasan yang menjadikannya kemudian hambar, hingga akhirnya kandas dan berbekas misteri penasaran teman-teman. Satu kisah ini agaknya menjadi bukti tentang alasan manusia mencintai, dan kemudian bisa berlanjut seperti masih mencintai, tetapi tanpa mengasihi sama sekali.
 Malam ini, segala rupa bahan omongan yang terpaut soal cinta, dituturkan luwes dan menggelinding bak roda berpelumas. Entah dari yang benar terjadi, gosip dari antah berantah, hingga dari yang hanya persepsi tanpa jelas bukti. Tidak ada satu diantaranya yang menggurui. Karena semua berkasta sama, berpengalaman hampir sama, dan berpengetahuan seminim yang lain dalam hal ini. Di dalam hal cinta mencintai.
Malam semakin melarutkan bibir-bibir mereka untuk jauh membicarakan perihal cinta. Semakin malam, semakin seru saja obrolan yang menggaungi malam ini. Dengan masih dalam topik yang sama, kali ini, mereka bertukar fikiran tentang rasa sebenarnya mencintai. Saling berbagi tentang efek dari virus yang mereka namai sebagai “Virus Amora Megalova”. Sebuah nama cetusan karibku yang kiranya merepresentasikan kabut rasa yang menggema diantara banyak hati disni. Bahkan, salah satu dari mereka menjadikan sebuah baris lirik lagu, sebagai referensi defenisi tentang rasanya jatuh cinta. Dan lirik itu berbunyi: “Dan kupu-kupu menari memenuhi isi perutku...”
Salah satu yang lain berani mengambil pendapat sendiri tentang rasanya jatuh cinta yang ia alami.
“Jatuh cinta itu ya.... rasanya fly! Heroin, mungkin. Melayang, abis itu nagih!”. Disusul dengan bergelak-gelak tawa anak-anak lain. Ternyata, tidak hanya satu. Yang lain ikut-ikutan tak mau tahu tentang respon yang akan muncul setelahnya dan memilih mengobralkan definisi tentang rasa jatuh cinta yang dialami masing-masing.
Pas jatuh cinta, Gue ngerasa ada angin sayup-sayup masuk ke telinga Gue daaaaaannn..... Ah! Pokoknya rasanya gitu deh!
Pas jatuh cinta mah, Aku berasa gugup, malu, kayak waktu tuh berhenti gitu aja depan muka Aku”
Pas jatuh cinta, apalagi pas ngeliat dia, rasanya seneng banget! Tapi keburu rikuh gara-gara deg-degan dan takut ketauan”
Dan, beragam definisi-definisi lain yang terjelma dari perasaan mereka sebagai fitrah Tuhan yang beruntung sekali mereka dapatkan. Yang mereka dapatkan. Mereka dapatkan. Merekalah yang mendapatkan. Sedang Aku?
***
Matahari di Selasa yang tengah kujalani ini terasa menerik dari biasa. Dengan energi yang terkumpul dirasa minim karena semalaman tadi dihabiskan dengan obrolan tak karuan, bergontailah kakiku menapaki jengkal-jengkal paving block dari ruang kelas Sejarah menuju masjid. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku dari belakang. Tapi belum mau Aku menoleh padanya.
“Kanya!”. Begitu panggilnya padaku. Suara yang kukenal sebagai Prita itu kemudian mendekat dan kami pun sudah berjalan sejajar sekarang. Berbarengan kami menuju masjid untuk melaksanakan solat dzuhur. Prita, nampak bersemburatan riak bahagia.
Seneng kenapa nih?”
“Boy, Nya. Tadi dia nanyain tentang Biologi ke Gue. Ya biasa aja sih. Tapi Gue seneng!”
Aku sedikit mengernyit. Memikirkan segala dampak yang akan terjadi jika mengutarakan tanggapan “A”, tanggapan “B”, atau apabila Aku hanya diam saja tanpa menanggapinya.
Kok Lo nggak nanggepin, Nya?”
Ah, prita! Kamu menangkap kebingunganku rupanya. Aku pun membatin.
Untung sekali, sebelum Aku lebih gelagapan lagi didepannya, langkah kami sepakat terhenti di depan serambi belakang masjid bertepatan dengan lafalan iqomah yang berkumandang. Sontak, Aku menyeru, “Nanti aja, Ta. Kayaknya ada yang perlu Gue omongin ke Lo juga, deh.”
Setengah mengebirit, Aku pergi meninggalkannya yang sedang berhalangan solat, ke tempat berwudlu. Entahlah. Entah mimik apa yang tergambar pada wajah Prita sekarang. Mungkin dia hanya penasaran dengan rikuhku. Tapi Aku, terlalu iba memikirkan bagaimana cara yang tepat mengatakan padanya bahwa Boy bukan lelaki yang tepat untuk dicintainya. Bahwa Prita, teman baikku, harus tahu bahwa Boy tidak memilihnya. Ah, Prita!
***
Benar saja. Seperti dugaanku, Prita yang memang punya penasaran tinggi tak lantas mengartikan kata “Ntar” sebagai lusa, besok, atau nanti saja sepulang sekolah. Selepas dzikir dan menipisnya jama’ah dzuhur, ia menghampiriku yang masih lengkap memakai mukena.
“Apa, Nya?” Prita memulai percakapan di istirahat siang ini. Duduk disampingku dan memasang dudukannya serileks mungkin.
Aku masih gusar menjawab. Kusembunyikan rasa ibaku dengan tetap terus berdzikir. Oh Tuhan, haruskah kumengatakannya?
“Kenapa, Nya?” Kali ini dengan suara yang lebih berat dan seolah bersiap dengan apapun yang akan kukatakan.
Lo serius tentang Boy?” Pertanyaan ini justeru membuat lawan bicaraku ini mengulum senyum kecil. Sangat kecil, mungkin. Tapi masih dapat kulihat.
Lo udah ngedenger gosip tentang Boy, Nya?” Sontak pertanyaannya membuatku kaget dan membatu. Diluar perkiraanku, Prita lebih mengetahui apa yang akan kukatakan padanya.
“Dan sekarang Lo mau wanti-wanti Gue supaya nggak terlalu berharap? Lo mau ngingetin Gue ‘kan?
Aku tak punya daya apapun sekarang. Entahlah. Detik-detik ini sama sekali tak kusukai. Dengan rasa tidak enak yang begitu tinggi, Aku tetap mencoba menyembunyikan gugup.
“Terus, menurut Lo, Nya?” Ah, Ta! Sudah tahu Aku rikuh begini, masih saja Kamu bertanya.
“Persis sama apa yang Lo omongin, Ta.  Gue Cuma temen Lo, Ta. Gue tau kalo Lo ngerti kenapa Gue harus ngomong ini ke Lo.”
Makasih, Nya. Tapi bahkan Gue sendiri nggak peduli sama Mannequin. ‘Kan Boy punya hak buat suka sama orang. Kayak Gue yang berani buat suka sama Boy dan ngerasa berhak buat milikin rasa itu. Gue manusia. Gue juga nggak tau kenapa Tuhan ngasih rasa ini ke Gue.
Kini, Aku mulai berani menatap matanya. Nanarnya bahkan lebih ceria dibanding Aku. Kenapa Aku ini?
Bukannya lebih wajar kalo Lo cemburu, Ta?” Aku memberanikan diri menanyakannya. Hening kemudian. Hanya tedengar lantunan ayat suci dari pojok masjid sebelah sana. Entah sebelah mana.
Lo sendiri tau apa tentang suka? Tau apa tentang... Ah! Sebenernya Gue nggak suka nyebut kata dari "C" itu...”
Aku tertegun. Untuk kesekian kalinya kata-kata Prita menyontakku. Kali ini, dadaku memanas. Seandainya Prita bukan teman baikku, mungkin perasaan ini dinamakan ‘tersinggung’.
“Apa yang salah sih, Ta kalo Gue sampe sekarang belum pernah ngerasain suka kayak apa yang Lo dan temen-temen lain rasain? Gue masih ngerasa normal, Ta.” Kata-kataku landas begitu saja.
Emang menurut Lo, Gue nggak normal kalo misalnya Gue tau orang yang Gue suka jelas-jelas suka orang lain dan Gue masih biasa aja seolah-olah nggak ada apa-apa? Gue juga masih ngerasa normal, Nya.”
Lekat-lekat Prita memandang mataku. Mungkin sekarang ia bisa menangkap mataku yang membasah. Aku membuang muka. Menerawang dinding kanan masjid.
“Kita nggak salah, Nya. Apa yang salah kalo Gue tetep seneng bisa dapet kesempatan ngobrol sama Boy meskipun sebenernya Gue tau dia udah suka sama orang?” Aku masih saja menerawang. Belum mau melihat wajahnya lagi. Aku tahu bahwa ia pasti mengerti kalau Aku tidak sedang marah.
“Menurut Lo ‘rasa itu’ fitrah, Ta?” Aku malah balik bertanya. Wajahku kutundukkan sehabisnya.
“Jelas lah, Nya. ‘Kan Tuhan yang ngasih. Makanya, Lo yang kasian nggak pernah ngerasain fitrah itu. Bukan Gue yang perlu dikasihanin. Hahahaha.” Prita terbahak dibarengi tawaku pula. Ejekannya ampuh mencairkan keheningan percakapan ini. Aku memukul-mukulnya pelan. Sehabis terkekeh, Aku berucap lagi.
Gue nggak mau sok’ suci, Ta. Tapi ‘kan Gue masih punya Allah.”
“Maksudnya?” Prita bertanya tidak mengerti.
“Sejauh ini, belum ada lagi selain Allah dan keluarga Gue.” Aku berkata mantap.
“Terus, Lo nggak nganggep Gue nih?” Prita bertanya sambil mendongakkan kepalanya. Sementara Aku tak sanggup menjawab apapun atas pertanyaannya. Tanpa basa-basi, Aku memeluknya. Hangat. Mendekap teman terhebatku yang tak lantas diacuhkannya.
Siang ini, kami mengerti banyak makna. Memahami bermacam rasa walaupun tidak selalu ada alasan mengapa Tuhan memfitrahkan atau menangguhkan anugerah-Nya. Sementara belum kulepas pelukannya terhadapku, bel masuk kelas berbunyi nyaring. Namun sekarang, detik ini, suara bel itu terdengar lebih merdu dari biasa.
Terimakasih, Prita!

Tuesday, February 12, 2013

Rasionalitas dan Harga Diri

Tanpa harap adalah nista.
Ternyata tulus kubuat menutupi pinta.
Rasio menajam.
Harga diri terhujam.
Dengan keras, kamu  membuat ariku melebam.
Berfikir lagi neuron dan syarafku suam-suam.
Kamu cinta banyak-banyak.
Kamu fikiri banyak-banyak.
Tak sesenti pun uratmu sadar.
Tak sebersit pun ronaku mengitar.
Apa yang banyak itu menghiraumu?
Apa yang banyak itu mengindahmu?
Aku menghiraukanmu.
Aku mengindahkanmu.
Cinta adalah harga diri yang terasionalisasi.
Cinta adalah rasionalitas berharga diri.
Rasakan sendiri,
                                nanti_______________.

@permadani
February 11th 2013 | 12.33 pm.